SoE, FHN – UPTD Puskesmas Noebeba kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan melalui penyelenggaraan Mini Lokakarya (Minilok) yang berlangsung pada Senin (tanggal menyesuaikan). Kegiatan rutin ini diadakan di ruang pertemuan UPTD Puskesmas Noebeba dan dihadiri oleh seluruh tenaga kesehatan, bidan desa, kader posyandu, serta perwakilan pemerintah desa dari wilayah kerja puskesmas. Minilok tersebut menjadi wadah evaluasi, koordinasi, dan perencanaan strategis untuk memperbaiki layanan kesehatan masyarakat di Kecamatan Noebeba.

Sebagai pusat kesehatan masyarakat yang bertanggung jawab langsung terhadap pelayanan dasar, Puskesmas Noebeba menggelar mini lokakarya secara berkala untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan yang muncul di masyarakat sekaligus merumuskan langkah-langkah perbaikan. Dalam pembukaan kegiatan, Kepala UPTD Puskesmas Noebeba menegaskan bahwa mini lokakarya merupakan forum penting yang tidak boleh dianggap sebagai kegiatan seremonial semata. Menurutnya, forum ini adalah ruang untuk menganalisis data kesehatan, tindak lanjut program kerja, serta memperkuat koordinasi lintas sektor.

Dalam paparannya, Kepala Puskesmas menyampaikan sejumlah capaian program kesehatan dalam tiga bulan terakhir, termasuk peningkatan cakupan imunisasi dasar, pemeriksaan kehamilan, dan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita. Meski demikian, beberapa tantangan masih dihadapi, terutama terkait angka balita berisiko stunting dan rendahnya tingkat kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan rutin. “Kita perlu memperkuat komunikasi dengan masyarakat agar semakin sadar akan pentingnya layanan kesehatan dasar,” tegasnya.

Mini lokakarya kali ini mengangkat tema Peningkatan Mutu Pelayanan Melalui Optimalisasi Program Kesehatan Berbasis Data. Peserta minilok diajak untuk meninjau kembali indikator kesehatan prioritas, seperti penanganan stunting, pencegahan penyakit menular, pelayanan ibu dan anak, serta surveilans kesehatan masyarakat. Tim gizi Puskesmas memaparkan perkembangan angka stunting di wilayah kerja Noebeba serta desa-desa yang tergolong rentan, termasuk Desa Oebaki, yang sebagian besar balitanya masih memerlukan pendampingan intensif.Selain paparan data, minilok juga mencakup sesi diskusi kelompok untuk membahas tantangan lapangan yang dihadapi bidan desa dan kader posyandu. Dalam sesi tersebut, beberapa bidan menyampaikan kendala seperti jarak tempuh yang jauh, keterbatasan sarana transportasi, dan rendahnya tingkat partisipasi warga dalam kegiatan posyandu. Para kader juga menyoroti perlunya peningkatan edukasi gizi bagi ibu balita, terutama yang masih mengandalkan pola makan sederhana tanpa variasi.

Pihak Puskesmas menekankan bahwa kerja sama lintas sektor menjadi kunci dalam menyelesaikan tantangan tersebut. Oleh karena itu, Minilok turut menghadirkan perwakilan pemerintah desa untuk mendukung program kesehatan, terutama dalam penyediaan dukungan operasional bagi kader dan penguatan kegiatan posyandu. Pemerintah desa menyatakan siap mendukung Puskesmas, terutama dalam hal peningkatan penyuluhan kesehatan, penganggaran kegiatan posyandu, serta memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui dana desa.

Sesi berikutnya berfokus pada peningkatan koordinasi program KB, imunisasi, dan surveilans penyakit menular. Petugas Kesehatan Lingkungan (Kesling) memaparkan pentingnya perilaku hidup bersih, pengelolaan sampah rumah tangga, serta pengawasan kualitas air bersih yang menjadi salah satu faktor risiko penyakit diare yang masih ditemukan di beberapa desa.

Kegiatan mini lokakarya ditutup dengan penetapan rencana tindak lanjut (RTL) yang harus dilaksanakan dalam periode berikutnya. Beberapa poin penting yang disepakati antara lain:
1. Peningkatan edukasi gizi dan penguatan intervensi stunting melalui pendampingan ibu hamil dan ibu balita.
2. Optimalisasi posyandu dengan meningkatkan partisipasi warga dan dukungan pemerintah desa.
3. Peningkatan cakupan imunisasi dan pemeriksaan ibu hamil melalui kunjungan aktif tenaga kesehatan.
4. Penguatan surveilans penyakit menular dengan pelaporan cepat oleh bidan desa.
5. Pemantapan koordinasi lintas sektor, khususnya antara puskesmas, pemerintah desa, PLKB, dan kader.Melalui kegiatan mini lokakarya ini, UPTD Puskesmas Noebeba berharap seluruh tenaga kesehatan dapat semakin solid dalam memberikan pelayanan yang cepat, responsif, dan berkualitas. Kepala Puskesmas menegaskan bahwa tujuan besar dari minilok adalah memastikan masyarakat Noebeba mendapatkan layanan kesehatan yang merata dan bermutu, serta mendorong terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang semakin baik.

Mini lokakarya UPTD Puskesmas Noebeba kembali menjadi bukti bahwa kolaborasi dan evaluasi rutin adalah fondasi penting dalam membangun layanan kesehatan yang berkelanjutan di tingkat kecamatan. Dengan kerja sama semua pihak, berbagai tantangan kesehatan di Noebeba diharapkan dapat ditangani secara lebih efektif dan tepat sasaran.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.